|
Wednesday, September 01, 2004
pagi ini aku merasa 'rawan hati' ...
Selasa , 1 September 2004
Ada cerita yang tertinggal yang belum sempat aku tulis kemarin ... mungkin karena ada hal lain yang menyedot perhatianku belakangan ini, dan akhirnya cerita itu tertinggal tidak terekam dalam ingatan ... mungkin saja ketika momen itu terjadi, saya tidak menganggap bahwa momen itu sebenarnya sangat berkesan dan pantas untuk direkam dalam ingatan saya... dan sekarang, pagi tadi, entah kenapa memori itu seperti meloncat ...
Sabtu , 28 agustus 2004
12.00, stasiun kereta api cikini, menunggu kereta balik menuju Depok.
si kotak kaleng besar itu datang, masuk lah aku ke dalamnya. hemm populasi didalamnya masih bisa ditolerir dibanding pagi tadi dari depok menuju cikini... lajur bangku kiri kanan masih menyisakan banyak ruang untuk duduk ... bahkan pengemis yang tadi pagi kulihat pun sekarang bisa dengan santainya mengubah strategi menarik belas kasihan dengan gaya yang ekstrem ... berpura-pura menjadi orang lumpuh, berjalan dengan pinggulnya dan membiarkan kedua kakinya secara sadar terseret-seret sepanjang lorong gerbang memelaskan orang yang meliatnya saat itu.
Aku ??? saya hanya bisa tersenyum sumir, tadi pagi aku lihat lelaki itu berpura menjadi orang buta membawa kotak musik karaoke sambil digandeng anak kecil dengan suara seadanya memelaskan ...
memelaskan ??? haaaak !!!
lumpuh ?
ingatanku kembali terlempar ...
akhir desember 1995, rumah sakit Dr.kariadi Semarang, bangsal kelas 1, pagi hari.
kau dengarlah suara seseorang terjerembab dari tempat tidur bangsal itu , ubin yang keras dingin, dengungan air conditioner, diseberang tempat tidur, beberapa hasta jaraknya ... seorang wanita tertidur pulas meringkuk di sofa panjang ... raut kelelahan menggurat di wajah dan terbaca dari aura tubuh wanita ini ... wanita ini adalah, Ibuku .
"Bruukkkkkkk" .....
"arrrrggghhhh ..." (jeritan ini tumpah sekuat-kuatnya dari rongga paru-paru menggetarkan pita suara secara maksimal )
"Ibuuuuu ... Ibuuuuu ..." (kepanikan meruap ... kepanikan meruap ... kepanikan meruap)
wanita setengah baya di depanku terjaga tiba-tiba...
"kaki ku hilang ... kaki ku hilang ... aku nggak bisa ngrasain kaki ku Bu .... arrrghhhh .. ada apa dengan kakiku ini ????"
kucakar-cakar kedua kaki ... darah mengalir dari keduanya ... tapi tetap, kedua kaki ini kebas rasanya.
Tuhan memberiku cobaan ini selama setahun kedepan ...
12.15, kereta api menuju depok
gerbong tempatku duduk, mulai merapat penuh ... dua lajur bangku, di depan dan di tempatku sekarang tidak menyisakan ruang lagi. berdirilah di depanku seorang perempuan... tak kuperhatikan detailnya ... namun entah kenapa tiba-tiba kuperhatikan wajahnya ....
wajah wanita ini sendu
wajah wanita ini menahan nyeri
ada kesedihan yang sepertinya menggumpal
wanita ini menahan tangis
(aku tak mau menangis)
jangan ditahan .. muntahkan saja .. apapun itu .. muntahkan saja
(aku tak mau menangis , tidak ... jangan disini ... haaakkk kerongkonganku tercekat .. hatiku sakit menahan rasa ingin menangis)
oh sudahlah wanita ... tumpahkan saja ...
tiiit tiiit tiiit ... nada sms handphone wanita berbunyi
rona wajah wanita itu semakin kelam
kekasihmu kah ? kekasih gelap kah ? ibumu kah ?
raut muka ini ... raut menahan kesedihan .. raut menahan beban di hati ... raut menahan air mata ini .. melemparkan memoriku ....
27 desember 2002, stasiun tawang semarang, jam 19.30
(kursi panjang .... seberang jalur 2 ... sendirian)
dan aku harus menahan rinai air mata ini untuk jatuh hingga rongga dadaku sakit ...
sekarang waktunya untuk pergi .
"opium" .. ah ah semoga dia tidak datang untuk melepas saya pergi ... dia pemicu yang dahsyat untuk menjatuhkan semua air mata ini menjadi banjir bandang !!!
dan dia datang ...
haaaakkk rongga ini jebol ... i cried ....
12.25, kereta bersurut beranjak , dan akhirnya berhenti di stasiun lenteng agung
air mata membanjiri pipinya .....
bagus .. keluarkan saja ... jangan pedulikan sekelilingmu
berteriaklah jika kamu mau
isaknya mulai terdengar
ya .. ya... ya .. seperti itu ...
"tissuenya mbak ?"
Posted at 02:35 pm by arya_item
 |  |  | rio September 1, 2004 04:10 PM PDT
Gusye it's a touching story. Your opium must be a very strong person. Gue nggak ngebayang kalo itu nimpa gue, gue rasa kehilangan terbesar adalah kehilangan sesuatu yang pernah kita rasakan kenikmatan, kegunaan, kesenangannya. Tangan, kaki, dan indera lain, yang kalo dicabut nikmatnya oleh Tuhan di saat kita udah terbiasa pasti akan jauh lebih berat daripada kehilangan dari kita lahir. Soalnya kita udah terbiasa dengan keberadaannya.
Demikian juga cinta. Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai, yang udah biasa ada di samping kita, aduh, berat banget ya Gus.
That's one of the moment you need to have people who care to cheer you up. Hope I can be there for you when you're in such condition.
Hiks... jadi mellow nih... |  |
  |  |  | agus September 1, 2004 05:44 PM PDT
rio .. sekarang gue jadi tambah mellow baca comment lu ... hics hics ... (gaya taylor dayne) ..."seeeeennnddd me a loveerrrrr" ..... |  |
  |  |  | rio September 1, 2004 05:46 PM PDT
jangan dong dek manggis:D. yeuk kita bersenang2, itu gunanya teman. btw, gimana kenny;;)? |  |
  |  |  | agus September 1, 2004 05:50 PM PDT
kenny dateng ke kantor .. mau interview .. ketemu sama miund juga ... cerita2 nanti nontonnya ya :) sayang aku nggak bisa ikutan .. aku lebih baik di rumah aja deh :) orang rumahan hehehehe |  |
  |  |  | dan September 2, 2004 09:27 AM PDT
"Keluarkan saja... Menangislah, bila perlu berteriaklah..."
Did u say that (in your mind) to that woman, or to your self? Did u see your self on that woman?
We see mirrors in everybody, don't we? We see what we want to see. We feel what we want to feel. It's all inside us...
Take care bro', if u need me, u know where to find me...
|  |
  |  |  | agus September 2, 2004 10:05 AM PDT
huuuaaaa comment-nya dan bikin mellow jellow lagi .. thanks ya ... kangen sama komentar2 cerdas dan penuh empati nih dari kamu hehehehe |  |
|
|